05 Nov Ajang Pemilihan Putra Putri Tenun Songket Indonesia 2019 Segera Digelar
WARTA KOTA, KEBAYORAN LAMA -Yayasan CBKN dan KTTI akan menggelar ajang Pemilihan Putra Putri Tenun Songket Indonesia 2019 (PPTSI 2019).
Kegiatan ini merupakan salah satu upaya untuk melestarian kain tenun dan Songket sebagai kekayaan warisan budaya Indonesia harus terus digali, dilestarikan sekaligus dikembangkan, dengan mengajak peran serta generasi milinial berpartisipasi di dalamnya.
Yayasan Cinta Budaya Kain Nusantara (CBKN), dan Komunitas Tekstil Tradisional Indonesia (KTTI) paham betul tentang perlunya dilakukan beragam upaya untuk pelestarian dan penyelamatan budaya warisan leluhur bangsa Indonesia ini.
“Dengan penyelenggaraan acara ini diharapkan generasi muda untuk mencintai budayanya serta dalam rangka penyelamatan dan melindungi asset peninggalan leluhur, dalam hal ini tenun dan songket”, kata Anna Mariana, selaku Ketua Umum dan Penanggungjawab acara PPTSI 2019.
Kegiatan ini juga didukung oleh Rumah Kreasi Indonesia Hebat (RKIH) dan Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN) sebagai partner kerja
Sementara Grand Final PPTSI akan diselenggarakan pada bulan Desember di Bali, dan menurut rencana akan dihadiri Presiden Joko Widodo dan Ibu Iriana yang akan menyerahkan piala bergilir untuk pemenang pertama, sekaligus akan meresmikan Penetapan Keputusan Presiden tentang tanggal 7 September sebagai “Hari Tenun dan Songket Nasional“
Hal ini terungkap dalam acara bertajuk Mahakarya Cita Indonesia 2019, yang menghadirkan narasumber : Anna Mariana (Ketua Umum & Penanggung jawab Acara PPTSI 2019 dalam rangka Peresmian “Hari Tenun dan Songket Nasional“), Kris Budiharjo Ketua Umum (RKIH), Rd. H. Rasich Hanif R (Sekjen FSKN), Teuku Rafli (Wasekjen FSKN), TA Panji Indra (Ketua Panitia Pelaksana PPTSI 2019), Linda Kartika Dewi (Ketua Bidang Sponsorship PPTSI 2019), Beki Mardani (Ketua LKB, Ketua Juri PPTSI 2019), Imron Hasbullah (Sekjen LKB dan Wakil Juri PPTSI 2019) dan Tengku Rio(Ketua KTTI & Wakil Ketua Acara PPTSI 2019).
Total jumlah pemenang PPTSI 2019 ada enam peserta berpasangan yang kemudian akan menjadi Duta dari Yayasan Cinta Budaya Kain Nusantara dan Komunitas Tekstil Tradisional Indonesia (KTTI).
Ajang PPTSI 2019 menargetkan peserta berpasangan (pria dan wanita) berusia 18-25 tahun dari 34 propinsi di Indonesia, berpenampilan menarik dan berkepribadian baik,
Pasangan peserta akan dinilai 7 dewan juri (terdiri dari para pakar kepribadian, marketing, budayawan, pakar kain, tokoh media, tokoh fashion, tokoh dari dunia hiburan) tentang pengetahuan mereka mengenai pariwisata, budaya juga sejarah kekayaan songket dan tenun dari daerah masing-masing peserta.
Untuk itu peserta diwajibkan membuat video pendek (durasi 1 menit) yang diupload di akun Instagram masing masing dan melampirkan tulisan sepanjang 5 paragraph dengan tema “Melestarikan Kain Tenun dan Songket untuk Menjaga Budaya Bangsa di Era Industri 4.0.
Pemilihan PPTSI 2019 bukan sekadar ajang Beauty Pageant biasa iasa. Namun, diselenggarakan dengan tujuan sebagai ajang edukasi budaya, sekaligus penggalian minat serta kecintaan pada budaya Indonesia. Karena itu, PPTSI selain dirancang menjadi kegiatan tahunan, juga akan diselenggarakan untuk tingkat Asia.
“Ini merupakan ajang yang unik dan berbeda dari ajang serupa yang pernah ada perhelatan ini digelar secara bersama sama yang melibatkan sejumlah pihak dan pesertanya berpasangan”, ujar TA Panji Indra, selaku Ketua Panitia Pelaksana PPTSI 2019.
Jumpers Mahakarya Cita Indonesia Ajang Pemilihan Putra Putri Tenun Songket Indonesia 2019 (warta kota/nur ichsan)
Yang berbeda dari penyelenggaraan PPTSI 2019 adalah ikut dirancangnya Pameran kain Tenun dan Songket dan benda benda pusaka warisan leluhur para Raja Raja yang masih tersimpan di beragam Keraton di seluruh Nusantara.
Pameran yang dilakukan bekerjasama dengan para Raja-Raja Nusantara dalam Forum Silahturahmi Keraton Nusantara (FSKN) ini, bertujuan memperlihatkan betapa kayanya sejarah budaya bangsa Indonesia. Kegiatan ini sekaligus dapat menjadi ajang Pengetahuan serta edukasi bagi seluruh lapisan masyarakat dan generasi muda.
Pemilihan PPTSI sendiri memiliki tujuan mulia yang sangat kuat yaitu, sebagai ajang perkenalan dan meningkatkan Nasionalisme, membangkitkan rasa cinta budaya, terutama di kalangan generasi milenial, ajang promosi budaya dan pariwisata, serta ajang pemasaran tenun dan songket baik di dalam negeri maupun di internasional, sebagai bagian dari upaya pelestarian dan penyelamatan budaya Indonesia, membuka wawasan masyarakat tentang pentingnya mendaftarkan hak cipta atas motif tenun dan songket di tingkat nasional maupun international (Unesco).
Serta memberikan perlindungan hukum secara resmi terhadap design kain-kain pusaka dari sisi aspek legalitas & secara administrasi Negara, mengupayakan tenun dan songket masuk dalam kurikulum Pendidikan Nasional (baik di tingkat dasar – perguruan tinggi), memberikan dukungan dan rekomendasi sekaligus bekerjasama dengan Pemerintah, agar dapat membangun sekolah dan sentra tenun songket di setiap daerah.
Selain itu juga untuk membantu pemerintah dalam hal perekrutan tenaga binaan terbaik, menjamin ketersediaan bahan baku dan peralatan menenun. Target utama tenaga binaan adalah generasi milenial putus sekolah, masyarakat umum, kaum wanita dari kelompok PKK di seluruh Indonesia, mempersiapkan dan mensuport tenaga pengajar yang terbaik agar dapat memberikan binaan dan pelatihan sehingga kualitas serta kuantitas hasil bisa dikontrol.
Di sisi lain untuk mengupayakan pengembangan motif dan kualitas produk lebih terjamin dan terjaga baik, agar bisa memenuhi standart permintaan pasar serta pemasaran produk baik di dalam negri maupun luar negeri, mengupayakan dan mengusulkan kepada Bapak Presiden agar memberikan rekomendasi kepada Kepala Pemerintah Daerah melalui Peraturan Daerah (Perda), agar masyarakat dapat mengunakan tenun dan songket ciri khas daerah masing-masing seminggu sekali, sama sepeti penetapan hari Jum’at sebagai hari menggunakan Batik.
Dan merekomendasikan dan bekerjasama dengan Kementerian Pariwisata agar dapat mewajibkan kepada travel agent di seluruh Indonesia, bisa mengajak wisatawan lokal dan internasional untuk datang berkunjung ke sentra tenun dan songket di daerah, berkoordinasi dengan Raja-Raja Nusantara dalam pengumpulan data dan menggali lebih detail motif tenun dan songket yang tersimpan di setiap daerah.